Di satu sudutku

Mulanya adalah kebosanan. Membawa aku bertemu kamu. Dan satu warna mulai tumbuh, tanpa bisa dibias. Makin konvergen. Mengganti yang mulanya.

Di hari terakhir, aku bertemu kepergianmu. Aku bisu.

Lusanya, senyum dan sapamu. Aku kaku.

Lalu aku tulis cerita rahasia warna itu, yang akhirnya terbongkar karena lalaiku. Semua mendadak tahu. Aku malu.

Banyak komentar, tertulis dan lisan. Ada nasihat. Ada dorongan. Ada pesimisme. Ketika baur, muncul konflik baru. Id, ego, super-ego.

Aku ingin konflik berhenti.

Mediasi? Rekonsiliasi? Advokasi? Senuansa Kota Hujan tak juga menyemai damai.

Aku berkeras untuk tetap menyebutmu, meski tak mau melancangi Rencana Besar untukmu. Kalau sudah begini, mengeja relasi tulus-hasrat jadi sulit.

Malam ini aku sebut namamu pada dua teman. Dan terwujudlah sebutanku. Aku kaku lagi. Malu-malu. Salah tingkah.

Tolong, sebut satu kata untukku, ya atau tidak: untuk sebuah pendekatan yang bertendensikan warna itu. Supaya aku beranjak dari duduk-konflik-sudutku.


About this entry